TYPE APLIKASI HIDROPONIK
Secara umum tipe aplikasi hidroponik
dapat dibedakan menjadi 3 jenis :
- Pot culture system
- Floating Hidroponic System (FHS)
- Nutrient Film Technique (NFT) System
- Pot Culture System
Kalo kita
menanam tanaman di dalam rumah menggunakan tempat plastik atau gelas dengan air
sebagai media maka ini dapat dikatakan sebagai pot culture system yang
sederhana. Namun, sesuai dengan kebutuhan tanaman agar tumbuh dengan baik maka
harus diperhatikan ketentuan-ketentuan dasar seperti aerasi dan larutan nutrisi
dalam pot atau tabung dengan media air ini.
Untuk
aerasi dapat digunakan pompa udara untuk akuarium (kalau ukuran pot atau
tabungnya tidak terlalu besar). Selain dua hal tersebut perlu juga diperhatikan
suhu larutan nutrisinya, untuk ini dapat digunakan pendingin atau pemanas
buatan yang dapat dikendalikan.
Pada
gambar 1, ditunjukkan pot culture system yang ditumbuhkan dalam ruang tumbuh (growth
chamber) dengan penerangan buatan (artificial lighting) dengan suhu
ruangan yang terkontrol, kemudian berkurangnya larutan nutrisi oleh transpirasi
dan penyerapan oleh tanaman dapat diketahui dari potometer dan suhu daerah
perakaran dapat dikontrol menggunakan pengatur suhu dengan pendingin dan
pemanas pada bak air.
Untuk
otomatisasi, berkurangnya larutan nutrisi oleh transpirasi dan penyerapan
tanaman dapat juga dideteksi menggunakan timbangan otomatis yang dapat
diletakkan dibawah pot dan bias dihubungkan dengan komputer. Kemudian bisa juga
ditambahkan tangki larutan nutrisi dan dihubungkan dengan pipa atau selang
kecil untuk penambahan otomatis. Konsentrasi larutan nutrisi dapat juga diukur
dengan menambahkan sensor ion, pH atau EC dalam larutan nutrisi.
- Floating Hidroponics System (FHS)
Floating
hidroponic system (FHS) merupakan suatu budidaya tanaman (khususnya sayuran)
dengan cara menanamkan /menancapkan tanaman pada lubang styrofoam yang
mengapung diatas permukaaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung atau
kolam sehingga akar tanaman terapung atau terendam dalam larutan nutrisi.
Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Jensen (1980) di Arizona dan
Massantini (1976) di Italia.
Pada
sistem ini larutan nutrisi tidak disirkulasikan, namun dibiarkan pada bak
penampung dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan
dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu dilakukan karena dalam jangka yang
cukup lama akan terjadi pengkristalan dan pengendapan pupuk cair dalam dasar
kolam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Sistem ini
mempunyai beberapa karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran
yang mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat digunakan
untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena energi yang
dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik (mungkin hanya untuk
mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan larutan nutrisi saja).
Pada
Gambar 2 di bawah ditunjukkan pemakaian system FHS pada tanaman daun bawang
dalam greenhouse. Tanaman ditancapkan pada lubang dalam styrofoam dengan
bantuan busa (agar tanaman tetap tegak) serta ditambahkan penyangga tanaman
dengan tali. Lapisan styrofom digunakan sebagai penjepit, isolator panas dan
untuk mempertahankan tanaman agar tetap terapung dalam larutan nutrisi.
Agar
pemakaian lapisan styrofoam tahan lama biasanya dilapisi oleh plastik mulsa.
Dalam gambar juga ditunjukkan adanya bak larutan nutrisi dengan penyangganya,
biasanya bak penampung ini mempunyai kedalaman antara 10-20 cm dengan kedalaman
larutan nutrisi antara 6-10 cm.
Hal ini
ditujukan agar oksigen dalam udara masih terdapat di bawah permukaan styrofoam.
Untuk otomatisasi dalam FHS tidak berbeda jauh dengan cara untuk pot
culture system.
- Nutrient Film Technique (NFT)
Nutrient
film technique (NFT) merupakan salah satu tipe
spesial dalam hidroponik yang dikembangkan pertama kali oleh Dr. A.J Cooper di
Glasshouse Crops Research Institute, Littlehampton, Inggris pada akhir tahun
1960-an dan berkembang pada awal 1970-an secara komersial.
Konsep
dasar NFT ini adalah suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman tumbuh
pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat
memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen. Tanaman tumbuh dalam lapisan
polyethylene dengan akar tanaman terendam dalam air yang berisi larutan nutrisi
yang disirkulasikan secara terus menerus dengan pompa.
Daerah
perakaran dalam larutan nutrisi dapat berkembang dan tumbuh dalam larutan
nutrisi yang dangkal sehingga bagian atas akar tanaman berada di permukaan
antara larutan nutrisi dan styrofoam, adanya bagian akar dalam udara ini
memungkinkan oksigen masih bisa terpenuhi dan mencukupi untuk pertumbuhan
secara normal.
Beberapa
keuntungan pemakaian NFT antara lain : dapat memudahkan pengendalian daerah
perakaran tanaman, kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah,
keseragaman nutrisi dan tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh
tanaman dapat disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman, tanaman dapat
diusahakan beberapa kali dengan periode tanam yang pendek, sangat baik untuk
pelaksanaan penelitian dan eksperimen dengan variabel yang dapat terkontrol dan
memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan high planting
density.
Namun NFT
mempunyai beberapa kelemahan seperti investasi dan biaya perawatan yang mahal,
sangat tergantung terhadap energi listrik dan penyakit yang menjangkiti tanaman
akan dengan cepat menular ke tanaman lain.
Pada
sistem NFT, kebutuhan dasar yang harus terpenuhi adalah :
Bed (talang), tangki penampung dan pompa. Bed NFT
di beberapa negara maju sudah diproduksi secara massal dan disediakan oleh
beberapa perusahaan supplier greenhouse dan pertanian, di
Jepang terbuat dari styrofoam, namun di Indonesia belum diproduksi sehingga
banyak petani Indonesia memakai talang rumah tangga (lebar 13-17 cm dan panjang
4 meter).
Tangki
penampung dapat memanfaatkan tempat atau tandon air. Pompa berfungsi untuk
mengalirkan larutan nutrisi dari tangki penampung ke bed NFT dengan bantuan
jaringan atau selang distribusi.
Ditulis kembali Oleh : H Agus Hendra
Sumber : Affan, M. F.F, 2004, High temperature effects on root absorption in hydroponic system, Master thesis, Kochi University.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar