OTOMASI HIDROPONIK
Proses pengontrolan dalam hidroponik
merupakan proses yang dilakukan secara kontinyu, dalam jangka waktu yang
panjang dan memerlukan akurasi pengontrolan yang tinggi (apalagi kalau variabel
yang dikontrol cukup banyak). Untuk itu perlu dilakukan pengontrolan otomatik
agar tidak terjadi permasalahan seperti pada pengontrolan secara manual antara
lain :
- kelelahan
- subyektifitas
- kejemuan
- ketidakseragaman
- ketidaktelitian manusia
Pada kontrol otomatik ini, tahapan
kontrol seperti mengukur, membandingkan, menghitung dan mengoreksi dilakukan
oleh instrumen secara berulang. Dengan kontrol otomatik dapat dicapai tujuan
kelancaran operasi, pengendalian keamanan dan mutu produk [11].
Secara umum pengontrolan yang
dilakukan dalam hidroponik dapat dilakukan untuk mengontrol : air (penjadwalan,
sirkulasi dan distribusi), larutan nutrisi (kandungan konsentrasi nutrisi, pH,
suhu, EC dan oksigen) dan juga faktor ekternal seperti lingkungan dalam
greenhouse.
Pengontrolan air dapat dilakukan
dengan mudah dengan menggunakan aksi kontrol on-off (seperti
yang diterapkan dalam gambar 3 untuk sistem NFT). Untuk pengontrolan larutan
nutrisi diperlukan sensor-sensor yang akan membaca kandungan larutan nutrisi
(sensor ion), sensor pH, sensor suhu dan sensor oksigen (DO sensor).
Sebagai contoh yang dilakukan oleh
beberapa peneliti dalam mengontrol komposisi larutan nutrisi baik dengan
pendekatan matematik maupun simulasi ataupun penerapan dalam sistem NFT.
Untuk pengontrolan konsentrasi
larutan nutrisi secara otomatis diperlukan :
- dispensing technology
- tangki pencampur
- pompa pengukur, sensor untuk mengukur konsentrasi larutan nutrisi (per ion nutrisi atau menggunakan ISFET (ion selective field effect transistor), EC dan pH
- software computer untuk mengukur, mengontrol dan komunikasi termasuk model dan algoritma untuk menentukan set point dan kebutuhan air dan nutrisi.
Adanya kemajuan teknologi sensor,
komputer dan elektronika memungkinkan adanya adaptasi wireless teknologi untuk
mengendalikan hidroponik secara lebih komprehensif, terutama untuk
mengendalikan faktor eksternal lingkungan dalam greenhouse serta pengendalian
air dan larutan nutrisi.
PEMBUDIDAYAAN
- Persemain
Wadah
persemaian yang digunakan berupa bak plastic yang bagian bawahnya telah
dilubangi dan dasarnya diberi strimin. Wadah ini diisi dengan media hidroponik
yang telah disiapkan bisa menggunakan cocopeat atau rockwool.
Kemudian,
benih disebar dan ditutupi dengan media lagi siram air dengan menggunkan
sprayer. Untuk menjaga kelembaban, wadah semai ditutup dengan plastic dan
ditempatkan di tempat yang gelap. Apabila benih telah berkecambah, plastic
dibuka dan benih dipindah ke wadah atau pot yang lebih besar.
- Penanaman
Wadah yang
digunakan berupa pot atau polybag yang berdiameter 15-20cm. Wadah yang
digunakan dibuat lubang 3-4 lubang untuk mengalirkan air yang berlebih. Bagian
dasar diberi strimin agar media tidak lolos keluar pot.
Setelah itu,
wadah diisi media hidroponik setinggi 2-3cm dari bibir pot. Lubang tanam di
tengah media dibuat dengan bantuan pensil. Satu wadah hanya 1 bibit. Bibit
dicabut secara hati-hati dan ditanam dalam lubang tanam. Disela-selanya
ditutupi media, selanjutnya penyiraman hingga lembab.
- Perawatan
Perawatan
tanaman yang utama adalah penyiraman air yang dicampur dengan nutrient. Nutrien
yang digunakan berupa pupuk yang mempunyai unsure N tinggi karena sayur ini
dipanen daunnya. Dosis pupuk harus sesuai anjuran. Penyiraman dapat dilakukan
1-2-3 kali sehari, yang penting media tidak kering.
Ditulis kembali Oleh : H Agus HendraSumber : Affan, M. F.F, 2004, High temperature effects on root absorption in hydroponic system, Master thesis, Kochi University.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar